Newest Post

Faktor-faktor Pembentukan Akhlak dalam Materi Akhlak Tasawuf Semester IV

| Jumat, 19 Februari 2016
Baca selengkapnya »


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Islam adalah agama yang sangat mementingkan Akhlak dari pada masalah-masalah lain. karena misi Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan Akhlak. Hal itu dapat kita lihat pada zaman Jahiliyah kondisi Akhlak yang sangat semrawut tidak karuan mereka melakukan hal-hal yang menyimpang seperti minum khomer dan berjudi. Hal-hal tersebut mereka lakukan dengan biasa bahkan menjadi adat yang diturunkan untuk generasi setelah mereka. Karena kebiasaan itu telah turun temurun maka pada awal pertama nabi mengalami kesulitan.
Prinsip Akhlak dalam Islam terletak pada iman yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagai motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, dan tata karya yang kongkret. Dalam hubungan ini Abu Hurairoh meriwayatkan hadist dari Rosulullah Saw yang artinya:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya”.
Dari arti ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengerjakan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan.
Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam diri manusia dan bisa bernilai baik atau bernilai buruk. Akhlak tidak selalu identik dengan pengetahuan, ucapan ataupun perbuatan orang yang bisa mengetahui banyak tentang baik buruknya akhlak, tapi belum tentuini didukung oleh keluhuran akhlak, orang bisa bertutur kata yang lembut dan manis, tetapi kata-kata bisa meluncur dari hati munafik. Dengan kata lain akhlak merupakan sifat-sifat bawaan manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya Al-Qur'an selalu menandaskan, bahwa akhlak itu baik atau buruknya akan memantul pada diri sendiri sesuai dengan pembentukan dan pembinaannya.
Makalah ini akan sedikit membahas tentang beberapa pengetahuan tentang faktor-faktor pembentukan akhlak.

1.2              Rumusan Masalah
1)   Apa pengertian dari akhlak?
2)   Apa saja faktor pembentukan akhlak

1.3              Tujuan Masalah
1)   Untuk mengetahui tentang akhlak.
2)   Untuk mengetahui apa saa faktor pembentukan akhlak

PEMBAHASAN

2.1Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlaq. Menurut bahasa, akhlak artinya perangai, tabiat, dan agama.
Secara sempit, pengertian akhlak dapat diartikan dengan kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik, jalan yang sesuai untuk menuju akhlak, pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan.
1.        Menurut Ibnu Maskawaih (941-1030 M)
Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melaluipertimbangan pikiran terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikian dan pertimbangan, kemudian dilakukan terus-menerus maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
2.        Imam Al-Ghazali (1055-1111 M)
Dalam Ihya Ulumuddin menyatakan: Akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuata yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran. Jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan perbuatan.
3.        Muhyiddin Ibnu Arabi (1165-1240 M)
Keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan.
4.        Syekh Makarim Asy-Syirazi
Akhlak adalah sekumpulan keutamaan maknawi dan tabiat batini manusia.
5.        Al-Faidh Al-Kasyani (w. 1091 H)
Akhlak adalah ungkapan untuk menunjukkan kondisi yang mandiri dalam jiwa, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa didahului perenungan dan pemikiran.[1]
2.2    Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak
Menurut H. A. Mustafa bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak ada 6, yaitu insting, pola dasar bawaan, lingkungan, kebiasaan, kehendak dan pendidikan.
1.       Insting
Definisi insting oleh para ahli jiwa masih ada perselisihan pendapat. Namun perlu diungkapkan juga, bahwa menurut james, yang dikutip oleh mustafa bahwa insting ialah suatu alat yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berfikir lebih dahulu kearah tujuan itu dan tiada dengan didahului latihan perbuatan itu.
Pengertian insting lebih lanjut ialah sifat jiwa yang pertama yang membentuk akkhlak, akan tetapi suatu sifat yang masih primitif, yang tidak dapat lengah dan dibiarkan begitu saja, bahkan wajib di didik dan di asuh. Cara mendidik dan mengasuh insting kadang-kadang dengan ditolak dan kadang-kadang pula diterima.
Dengan demikian insting itu berbeda-beda bagi manusia sebagai  kita katakan diata. Kadang-kadang seorang manusia diberi kekuatan dalam suatu insting, dan diberi kelemahan dalam  insting lainnya. Demikian juga seorang telah kuat instingnya sedang lain orang kelihatan lemah, dan begitu sebaliknya. Banyak dari pemuda-pemuda mempunyai persediaan insting untuk menghasilkan keahlian dalam cabang kehidupan yang beraneka warna. Keahlian ini akan dapat kelihatan apabila seorang dapat memelihara keinginannya yang baik dan mengetahui cara bagaimana memberi semangat dan memberi petunjuk yang seharusnya dikerjakan dang apa yang seharusnya ditinggalkan. Sehingga matanglah insting-instingnya.

Macam-macam insting :
a.       Insting menjaga diri sendiri
b.      Insting menjaga lawan jenis
c.       Insting merasa taku

2.      Pola Dasar Bawaan
Pada awal perkembangan kejiwaan primitif, bahwa ada pendapat yang mengatakan kelahiran manusia itu sama. Dan yang membedakan adalah faktor pendidikan. Tetapi pendapat baru mengatakan tidak ada dua orang yang keluar di alam keujudan sama dalam tubuh, akal dari akhlaknya.
Ada teori yang mengemukakan masalah turunan, yaitu:
a.       Turunan (pembawaan) sifat-sifat manusia.
Dimana-mana tempat orang membawa turunan dengan berbeda-beda sifat yang bersamaan. Seperti bentuk, pancaindera, perasaan, akal dan kehendak. Dengan sifat sifat manusia yang diturunkan ini, manusia dapat mengalahkan alam didalam beberapa perkara, sedang seluruh binatang tidak dapat menghadapinya.
b.      Sifat-sifat bangsa.
Selain adat kebiasaan tiap-tiap bangsa, ada juga sifat yang diturunkan sekelompok orang dahulu kepada kelompok orang sekarang. Sifat-sifat ini ialah menjadikan beberapa orang dari tiap-tiap bangsa berlainan dari beberapa orang dari bangsa lain, bukan saja dalam bentuk mukanya bahkan juga dalam sifat-sifat yang mengenai akal.

3.      Lingkungan
Lingkungan ialah suatu yang melingkungi tubuh yang hidup. Lingkungan tumbuh-tumbuhan oleh adanya tanah dan udaranya, lingkungan manusian ialah apa yang melingkungi dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa.
Lingkungan ada dua macam, yaitu:
a.        Lingkungan alam
Lingkungan alam telah menjadikan perhatian para ahli-ahli sejak zaman plato hingga sekarang ini. Dengan memberikan penjelasan-penjelasan dan sampai akhirnya membawa pengaruh. Ibnu Chaldun telah menulis dalam kitab pendahuluannya. Maka tubuh yang hidup tumbuhnya bahkan hidupnya tergantung pada keadaan lingkungan yang ia hidup didalamnya. Kalau lingkungan tidak cocok kepada tubuh, maka tubu tersebut akan lemah dan mati. Udara, cahaya, logam di dalam tanah, letaknya negeri dan apa yang ada padanya dari lautan, sungai dan pelabuhan adalah mempengaruhi kesehatan penduduk dan keadaan mereka yang mengenai akal dan akhlak.
b.       Lingkungan pergaulan
Sekolah, pekerjaan, pemerintah, syiar agama, ideal, keyakinan, pikiran-pikiran, adat-istiadat, pendapat umum, bahasa, kesusastraan, kesenian, pengetahuan dan akhlak. Pendeknya segala apa yang diperbuahkan oleh kemajuan manusia.
Manusia dalam masa kemundurannya lebih banyak terpengaruh dalam lingkungan alam. Apabila ia telah dapat mendapat sedikit kemajuan, lingkungan pergaulanlah yang banyak menguasainya, sehingga ia dapat mengubah lingkungan atau menguasainya atau menyesuaikan diri kepadanya.

4.      Kebiasaan
Ada pemahaman singkat, bahwa kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang terus sehingga mudah dikerjakan bagi seseorang. Seperti kebiasaan berjalan, berpakaian, berbicara, berpidato, mengajar dan lain sebagainya.
Orang berbuat baik atau buruk karena ada dua faktor dari kebiasaan yaitu:
a. Kesukaan hati terhadap suatu pekerjaan
b. Menerima kesukaan itu, yang akhirnya menampikkan perbuatan, dan diulang terus menerus
Orang yang hanya melakukan tindakan dengan cara berulang-ulang tidak ada manfaatnya dalam pembentukan kebiasaan. Tetapi hal ini harus dibarengi dengan perasaan suka didalam hati. Dan sebalikanya tidak hanya senang atau suka hati saja tanpa diulang-ulang tidak akan menjadi kebiasaan. Maka kebiasaan dapat tercapai karena keinginan hati dan dilakukan berulang-ulang.

5.       Kehendak
1.       Pengertian
Suatu perbuatan yang ada berdasar atas kehendak dan bukan hasil kehendak. Contoh berdasarkan kehendak adalah menulis, membaca, mengarang atau berpidato dan lain sebagainya. Adapun contoh yang berdasarkan bukan kehendak adala detik hati, bernafas dan gerak mata.
Ahli-ahli mengatakan bahwa keinginan yang menang adalah keinginan yang alamnya lebih kuat meskipun dia bukan keinginan yang lebih kuat.
Keinginan yang kuat desebut “roghbah”, lalu datang 4 azam atau niat berbuat. Azam ini ialah yang disebut dengan kehendak kemudian diikuti dengan perbuatan.
2.       Kehendak adalah kekuatan
Kehendak adalah suatu kekuatan dari beberapa kekuatan. Seperti uap atau listrik, kehendak ialah kehendak manusia dan dari padanya timbul segala perbuatan yang hasil dari kehendak, dan segala sifat manusia dan kekuatannya seolah olah tidur nyenyak sehingga dibangunkan oleh kehendak. Maka kemahiran penggunaan, kekuatan akal ahli pikir, kepandaian bekerja, kekuatan urat, tahu akan wajib dan mengetahui apa yang seharusnya dan tidak seharusnya, kesemuanya ini tidak mempengaruhi dalam hidup, bila tidak didorongkan oleh kekuatan kehendak, dan semua tidak ada harganya bila tidak dirubah oleh kehendak menjadi perbuatan.
Ada dua macam perbuatan atas kehendak yaitu: kadang menjadi pendorong dan kadang menjadi penolak. Yakni kadang mendorong kekuatan manusia supaya berbuat, seperti mendorong membaca, mengarang atau berpidato; terkadang mencegah perbuatan tersebut, seperti melarang berkata atau berbuat.
3.      Obat kehendak
Bagaimana juga kehendak juga dapat sakit. Ada beberapa cara mengobatinya yaitu:
a.      Bila kehendak itu lemah, dapat diperkuat dengan latihan. Sepeti tubuh dapat diperkuat dengan gerak badan dan akal dengan penyelidikan yang dalam.
b.  Wajib bagi kita jangan membiarkan kehendak kita lenyap dengan tiada ditanfidzkan menurut agama kita, karena yang demikian itu akan melemahkan kehendak.
c.   Apabila kehendak itu kuat tetapi penyakitnya di dalam menjuruskan ke arah dosa dan keburukan. Maka obatnya dengan memperkenalkan jiwa, pada jalan-jalan yang baik dan buruk dan ditambah keterangan dengan buah dan akibat kedua jalan itu, dan menganjurkan supaya tunduk kepada maksud kebaikan dan mengelilingi jiwa dengan apa yang menarik kebaikan sehingga ia menuju ke arah kebaikan.
4.      Kebebasan berkehendak
Ahli filsafat yunani setengahnya berpendapat  bahwa kehendak itu mereka dalam memilih, dan setengahnya berpendapat bahwa kehendak itu terpaksa menjalani suatu jalan yang tidak dapat dilampauinya.
Ilmuan arab berkata bahwa: manusia itu terpaksa dan tidak mempunyai kehendak yang merdeka, bahkan kepastian itu yang menjalankan menurut apa yang digambarkannya. Dan manusia itu seperti kapas dalam tipuan angin atau seperti kulit biji diatas gelombang, tiada kehendak dan memilih, hanya Allah-lah yang berbuat menurut kehendaknya.
Kedua faktor ini mengendalikan kehendak yang menggambarkan baginya jalan untuk berbuat sehingga dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh manusia yang membentuk akhlak.

6.      Pendidikan
Dunia pendidikan, sangat besar sekali pengaruhnya terhadap perubahan prilaku akhlak seseorang. Berbagai ilmu diperkenalkan, agar siswa memahaminya dan dapat melakukan perubahan pada dirinya. Dengan demikian, setrategis sekali, dikalangan pendidikan dijadikan pusat perubahan perilaku yang kurang baik untuk diarahkan menuju ke prilaku yang baik. Maka dibutuhkan beberapa unsurdalam pendidikan, untuk bisa dijadikan agen, perubahan sikap dan perilaku manusia, yaitu:
1.      Tenaga pendidik
2.      Materi pengajaran
3.      Metodologis pengajaran
4.      Lingkungan sekolah[2]
   
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat kita simpulakan bahwa kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlaq. Menurut bahasa, akhlak artinya perangai, tabiat, dan agama.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak
ü  Insting
ü  Bawaan
ü  Lingkungan
ü  Kabiasaan
ü  Kehendak
ü  Pendidikan

3.2Saran
Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan bagi seluruh Mahasiswa khususnya para pembaca agar tergugah untuk terus dapat meningkatkan pemikiran dan pengetahuan bagi rekan-rekan Mahasiswa. Demi penyempurnaan makalah ini, Kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar rosihan,Akhlak tasawuf, Bandung: CV Pustaka Setia,2010, hlm. 11.
H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung: CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 85-110.



[1] Rosihon anwar ,Akhlak tasawuf,Bandung:CV pustaka setia,2010,hal 11


Faktor-faktor Pembentukan Akhlak dalam Materi Akhlak Tasawuf Semester IV

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 19 Februari 2016
With 1 komentar:

Konsep Analisis SWOT ( strength, weakneses, Opportunities and Threats )

| Kamis, 17 Desember 2015
Baca selengkapnya »


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Sebagai pelaksana program pendidikan, lembaga pendidikan adalah pemeran utama untuk melaksanakan program tersebut.Dalam pelaksanaan program-program serta tujuan yang telah disepakati oleh lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak bisa terlepas dengan problematika maupun persoalan-persoalan lain yang harus diselesaikan oleh sebuah lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam.
Persoalan-persoalan yang timbul baik berupa faktor intern maupun ekstern.Faktor intern misalnya terkait dengan kurikulum, tenaga pendidik, perserta didik dan lain-lain, sedangkan faktor eksternnya adalah faktor-faktor sosial (masyarakat), pemerintahan maupun pihak-pihak yang terkait. Sebuah lembaga pendidikan Islam tentunya harus mengetahui problematika lembaganya, mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman sehingga bisa melahirkan solusi-solusi cemerlang dan bisa mengantarkan lembaga pendidikan Islam pada kedudukan yang sangat berpengaruh dalam pergulatan keilmuan bangsa maupun dunia.
Analisis SWOT merupakan salah satu alternatif didalam manajemen pendidikan, khusunya lembaga pendidikan Islam. Sebenarnya apa analis SWOT itu, bagaimanakah sistem kerjanya? Dan mungkin masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan tentang analisis SWOT yang masih terasa asing bagi kita.Semoga dengan penyusunan makalah ini pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab. Semoga bermaanfaat.

1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1)   Apa pengertian analisis mengenai SWOT?
2)   Apa saja penerapan analisis SWOT di lembaga pendidikan Islam?
3)   Bagaimana Analisis SWOT dalam  lembaga Pendidikan Islam?
4)   Jelaskan secara singkat tentang analisis SWOT Secara Cermat dan Akurat?
5)   Sebutkan contoh dari analisis SWOT?

1.3              Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, berdasarkan rumusan masalah di atas:
1)      Untuk mengetahui arti dari analisis SWOT.
2)      Untuk mengetahui penerapan analisis SWOT di lembaga pendidikan Islam.
3)      Untuk mengetahui analisis SWOT dalam lembaga pendidikan Islam.
4)      Untuk mengetahui secara singkat tentang analisis SWOT Secara Cermat dan Akurat.
5)      Untuk mengetahui contoh dari analisis SWOT.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Analisis SWOT
SWOT adalah singkatan dari strength,weakneses, Opportunities and Threats (kekuatan, kelemahan, peluang dan Ancaman). Analisis SWOT sudah menjadi alat yang umum digunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan alat  yang efektif dalam menempatkan potensi institusi. SWOT adalah merupakan sebuah pendekatan dan paling mutakhir dalam dunia menajemen. Analisis SWOT juga merupakan sebuah strategi trobosan terbaru dalam dunia pendidikan untuk menuntaskan permasalahan atau hambatan-hambatan dalam lembaga pendidikan Islam.
Analisis SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek penting dari hal-hal tersebut, kekutan,  kelemahan, peluang dan ancaman. Tujuan pengujian ini adalah untuk memaksimalkan kekuatan, meminalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan membangun peluang. Bermanfaat untuk mengalisis situasi keadaan secara keseluruhan. Dengan analisis SWOT diharapkan lembaga mampu menyeimbangkan anatara kondisi internal yang direfresentasikan oleh kekuatan dan kelemahan dengan kesempatan dan ancaman dari lingkungan eksternal yang ada dengan teliti.
Strengths (kekuatan) merupakan kondisi internal positif yang memberikan keuntungan. Kekuatan dalam lembaga sekolah/madrasah dapat berupa kemampuan-kemampuan khusus/spesifik, SDM yang menandai, image organisasi, kepemimpinan yang cakap dan lain-lain.
Weaknes (kelemahan) merupakan kondisi internal negativ yang dapat merendahkan penilaian terhadap sekolah/madrasa kelemahan dapat berupa rendahnya SDM yang dimiliki, produk yang tidak berkualitas, image yang tidak kuat, kepemimpinan yang buruk dan lain-lain.
Opportunity (peluang) adalah kondisi sekarang atau masa depan yang menguntungkan sekolah/madrasah. Opportunity merupakan kondisi eksternal yang dapat memberikan peluang-peluang untuk kemajuan lembaga seperti adanya perubahan hukum, menurunnya pesaing menigkatnya jumlah siswa baru.
Threats(tantangan) adalah kondisi eksternal sekolah/madrasah, sekarang dan yang akan datang yang tidak menguntugkan. Tantangan ini dapa berupa munculnya pesaing-pesaing baru, penurunan jumlah siswa dan lain-lain.


2.2       Penerapan Analisis SWOT di Lembaga Pendidikan Islam.
Analisis SWOT merupakan sebuah pendekatan yang paling terkenal dan paling mutakhir dalam dunia menajemen. Analisis SWOT juga merupakan sebuah strategi trobosan terbaru dalam dunia pendidikan untuk menuntaskan permasalahan atau hambatan-hambatan dalam lembaga pendidikan Islam. Kata SWOT merupakan perpendekan dari Strengths Weaknesses Opportunities dan Treaths yang dapat diterjemahkan menjadi: kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Dalam metode atau pendekatan ini kita harus memikirkan tentang kekuatan apa saja yang kita miliki, kelemahan apa saja yang melekat pada diri atau lembaga pendidikan  kita dan kemudian kita juga harus melihat kesempatan yang terbuka bagi kita dan akhirnya kita harus mampu untuk mengetahui ancaman, ganguan serta tantangan yang menghadang didepan kita. Analisis ini harus kita lakukan, baik terhadap pesaing langsung maupun pesaing tidak langsung karena kita harus berusaha untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh sebuah lembaga pendidikan.
Dengan kata lain, sebuah lembaga pendidikan akan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan ketika kekuatan lembaga pendidikan melebihi kelemahan yang dimiliki. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tersebut harus mampu memperdayakan potensi yang dimiliki secara maksimal, mengurangi resiko-resiko yang akan terjadi. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa tercapai atau tidaknya tujuan lembaga pendidikan yang telah ditetapkan adalah fungsi dari lingkungan manajemen lembaga pendidikan.
Keandalan analisis SWOT terletak pada kemampuan para penentu strategi organisasi (decision maker) untuk memaksimalkan kekuatan dan pemanfaatan peluang lembaga pendidikan. Harapannya jelas, yakni bertujuan untuk meminimalisasi kelemahan yang ada dalam internal lembaga pedidikan dan menekan dampak ancaman yang akan timbul dan harus dihadapi. Siaga mengemukakan jika analisis SWOT dilakukan dengan tepat, maka sepertinya upaya untuk memilih dan menentukan strategi yang efektif akan membuahkan hasil sesuai apa yang diinginkan.


2.3       Analisis SWOT lembaga Pendidikan Islam
Analisi SWOT itu sendiri dapat didefinisikan dengan suatu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunities), akan tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan(weakness) dan ancaman( threats).
Ada beberapa tahapan dan langkah yang mesti ditempuh dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: Langkah pertama, identifikasi kelemahan (internal) dan ancaman (eksternal, globalisasi) yang paling urgen untuk diatasi secara umum pada semua komponen pendidikan. Langkah kedua, identifikasi kekuatan (internal) dan peluang (eksternal) yang diperkirakan cocok untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi pada langkah pertama. Langkah ketiga, lakukan analisis SWOT lanjutan setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam konteks sistem manajemen pendidikan. Langkah keempat, rumuskan strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
Langkah kelima, tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan disusun suatu rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.

Dalam Analis SWOT ada empat titik penekanan yaitu :

1)   Faktor Kekuatan (Strengths)
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Sebagai contoh bidang keunggulan, antara lain kekuatan pada sumber keuangan, citra yang positif, keunggulan kedudukan di masyrakat, loyalitas pengguna dan kepercayaan berbagai pihak yang berkepentingan. Sedangkan keunggulan lembaga pendidikan di era otonomi pendidikan atara lain: sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar, hanya saja perlu pembenahan dari kualitas. Selain itu antusiasme pelaksanaan pendidikan Islam sangat tinggi, yang didukung sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Hal lain dari faktor keunggulan lembaga pendidikan Islam adalah kebutuhan masyarakat terhadap yang bersifat transendental sangat tinggi, dan itu sangat mungkin diharapkan dari proses pendidikan lembaga pendidikan Islam.
Bagi sebuah lembaga pendidikan sangat penting untuk mengenali terhadap kekuatan dasar lembaga tersebut sebgai langkah awal atau tonggak menuju pendidikan yang berbasis kualitas tinggi. Mengenali kekuatan dan terus melakukan refleksi adalah sebuah langkah bersar untuk menuju kemajuan bagi lembaga pendidikan islam.

2)   Faktor kelemahan (Weaknesses)
Segala sesuatu pasti memiliki kelemahan adalah hal yang wajar tetapi yang terpenting adalah bagaimana sebagai penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut atau bahkan kelemahan tersebut menjadi satu sisi kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Kelemahan ini bisa kelemahan dalam sarana dan prasarana, kualitas atau kemampuan tenaga pendidik, lemahnya kepercayaan masyarakat, tidak sesuainya antara hasil lulusan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia usaha dan industri dan lain-lain
Untuk itu, beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para pengelola pendidikan Islam, antar alain:
(1) lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan Islam.
(2) sarana dan prasarana yang masih sebatas pada sarana wajib saja.
(3) lembaga pendidikan Islam swasta umumya kurang bisa menangkap peluang, sehingga mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini.
(4) uotput lembaga pendidikan Islam belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga pendidikan yang lain dan sebagainya.

3)   Faktor Peluang (Opportunities)
Peluang adalah suatu kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi formulasi dalam lembaga pendidikan.
Situasi lingkungan tersebut misalnya:
(1) kecenderungan penting yang terjadi dikalangan peserta didik.
(2) identifikasi suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian.
(3) perubahan dalam keadaan persaingan.
(4) hubungan dengan pengguna atau pelanggan dan sebagainya.

Peluang pengembangan lembaga pendidikan Islam antara lain:
a.    Di era yang sedang krisis moral dan krisis kejujuran seperti ini diperlukan peran serta pendidikan agama Islam yang lebih dominan.
b.    Pada kehidupan masyarakat kota dan modern yang cenderung konsumtif dan hedonis, membutuhkan petunjuk jiwa, sehingga kajian-kajian agama berdimensi sufistik kia menjamur. Ini menjadi salah satu peluang bagi pengembangan lembaga pendidikan Islam kedepan.
c.    Secara historis dan realitas, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, bahkan merupakan komunitas muslim terbesar diseluruh dunia. Ini adalah peluang yang sangat strategibagi pentingnya manajemen pengembangan lembaga pendidikan Islam.

4)   Faktor Ancaman (Treaths)
Ancaman merupakan kebalikan dari sebuah peluang, ancaman meliputi faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah ancaman tidak ditanggulangi maka akan menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi maju dan peranannya sebuah lembaga pendidikan itu sendiri. Contoh: ancaman tersebut adalah minat peserta didik baru yang menurun, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut dan lain-lain.


2.4       Analisis SWOT Secara Cermat dan Akurat
Menurut Boseman,(1989:6) ada 7 tahap proses manajemen strategik:
1)   Lakukan analisis SWOT secara cermat dan akurat.
2)   Mengenali visi dan misi organisasi.
3)   Melakukan formulasi tentang filosofi dan kebijakan organisasi.
4)   Menetapkan sasaran strategikorganisasi.
5)   Menetapkan strategi organisasi.
6)   Melaksanakan strategi organisasi.
7)   Melakukan kontrol strategi organisasi.

Sharplin (1985:54-55) memasukkan analisis SWOT untuk melihat kekuatan dan kelemahan didalam sekolah, sekaligus memantau peluang dan tantangan yang dihadapi sekolah.Analisis SWOT adalah salah satu tahap dalam manajemen strategik menggunakan pendekatan lingkungan. Proses penilaian kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan secara umum.
Analisis SWOT menyediakan para pengambil keputusan organisasi akan informasi yang dapat menyiapkan dasar dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan tindakan, jika keputusan ini diterapkan secara efektif akan memungkinkan sekolah mencapai tujuannya. Analisis SWOT dalam penyelenggaraan sekolah dapat membantu pengalokasian sumber daya seperti anggaran, sarana dan prasarana sumber daya manusia, fasilitas sekolah, potensi lingkungan sekolah, dan sebagainya yang lebih efektif.
Analisis SWOT dalam program sekolah dapat dilakukan dengan melakukan matrik SWOT, matrik ini terdiri dari sel-sel daftar kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam penyelenggaraan program sekolah, untuk memperoleh mutu sekolah dapat dilakukan strategi SO (menggunakan kekuatan dan memanfaatkan peluang), strategi WO (memperbaiki kelemahan dan mengambil manfaat dari peluang), strategi ST (menggunakan kekuatan dan menghindari ancaman), strategi WT (mengatasi kelemahan dan menghindari ancaman).


2.5       Contoh Analisis SWOT di MAN Malang
1)      Kekuatan:
a.    Knowledge atau kepakaran yang dimiliki.
b.    Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik.
c.    Lokasi tempat lembaga pendidikan berada.
d.   Kualitas lulusan atau proses.
e.    Jumlah anggota yang lebih dari cukup (kuantitatif),
f.     Berpengalaman dalam beberapa kegiatan (kualitatif).

2)             Kelemahan:
a.    Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.
b.    Lulusan yang tidak dapat dibedakan denganlulusanlembaga pendidikan / lembaga pendidikan lain.
c.    Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil.
d.   Kualitas lulusan yang jelek.
e.    Reputasi yang buruk.
f.     Kurang terbinanya komunikasi antar anggota,
g.    Jaringan yang telah terbangun tidak dimaksimalkan oleh seluruh anggota.

3)             Peluang:
a.    Lembaga yangterus berkembang dan pendidikan merupakan kebutuhan bagi masyarakat.
b.    Adanya pendidikan berbasis internasional.
c.    Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat.
d.   Masyarakat sedang menyukai tentang hal-hal yang bersifat reboisasi lingkungan.
e.    Isu yang sedang diangkat merupakan isu yang sedang menjadi topik utama.

4)             Ancaman:
a.    Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama.
b.    Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.
c.    Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif.
d.   Masyarakat sudah jenuh dengan pilkada.
e.    Isu agama yang berupa ritual telah membuat masyarakat bosan





BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
1.    Analisis SWOT sudah menjadi alat yang umum digunakan dalam perencanaan strategis pendidikan, namun ia tetap merupakan alat  yang efektif dalam menempatkan potensi institusi. Analisis SWOT juga merupakan sebuah strategi trobosan terbaru dalam dunia pendidikan untuk menuntaskan permasalahan atau hambatan-hambatan dalam lembaga pendidikan Islam.
2.    Dengan kata lain, sebuah lembaga pendidikan akan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan ketika kekuatan lembaga pendidikan melebihi kelemahan yang dimiliki. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tersebut harus mampu memperdayakan potensi yang dimiliki secara maksimal, mengurangi resiko-resiko yang akan terjadi.
3.    Ada beberapa tahapan dan langkah yang mesti ditempuh dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: Langkah pertama, identifikasi kelemahan (internal). Langkah kedua, identifikasi kekuatan (internal) dan peluang (eksternal). Langkah ketiga, lakukan analisis SWOT lanjutan setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam konteks sistem manajemen pendidikan. Langkah keempat, rumuskan strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani kelemahan dan ancaman, Langkah kelima, tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan disusun suatu rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.
4.    Menurut Boseman,(1989:6) ada 7 tahap proses manajemen strategik: (1) Lakukan analisis SWOT secara cermat dan akurat. (2) Mengenali visi dan misi organisasi. (3) Melakukan formulasi tentang filosofi dan kebijakan organisasi. (4) Menetapkan sasaran strategikorganisasi. (5) Menetapkan strategi organisasi. (6) Melaksanakan strategi organisasi. (7) Melakukan kontrol strategi organisasi.
5.    Contoh Analisis SWOT: (1) Kekuatan: Jumlah anggota yang lebih dari cukup (kuantitatif), Berpengalaman dalam beberapa kegiatan (kualitatif). (2) Kelemahan: Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil, Kurang terbinanya komunikasi antar anggota. (3) Peluang: Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat, masyarakat sedang menyukai tentang hal-hal yang bersifat reboisasi lingkungan. (4) Ancaman: Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain, lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif.

3.2       Kritik dan Saran
Dengan adanya makalah ini, hendaknya setiap lembaga pendidikan dalam mengatasi problematika menggunakan analisis SWOT sebagai salah satu solusi. Karena dengan pendekatan SWOT lembaga pendidikan akan mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sehingga lembaga pendidikan akan lebih mudah untuk mengatasi sebuah problematika. Kami berharap agar para pembaca umumnya dan kami sebagai penulis khususnya dapat dijadikan acuan sebagai bahan pembelajaran. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

Konsep Analisis SWOT ( strength, weakneses, Opportunities and Threats )

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 17 Desember 2015
With 1 komentar:
Prev
▲Top▲